The thought of little bee

Mencintaimu Sekali Saja

Minggu, 22 Maret 2020


       “Ijinkan aku datang ke pernikahanmu, Key.” Mata Eros memelas menatap Keyne. Namun gadis berambut ikal itu hanya diam. Ia lebih asyik menikmati milkshake cokelat kesukaannya.
            “Key, ayolah.” Eros kembali memohon.
         Keyne menarik napas panjang, menatap lelaki di hadapannya “Nggak usah, Ros. Kamu nggak perlu datang. Doakan aja supaya aku bahagia,” ujar gadis bermata sipit itu.Suara Keyne agak bergetar ketika mengucapkan kalimat terakhir. Jemarinya saling menaut di bawah meja, menutupi kegelisahan yang sejak tadi menghantui.
            Eros menunduk. Senyum yang biasa menghias bibirnya kini raib. Badannya lemas, permintaannya ditolak mentah-mentah. Sembilan tahun kebersamaan seolah tak ada artinya bagi Keyne.
pict: upperhouse-dot-com
            Kesunyian menghinggapi. Keyne tampaknya tak ingin menjelaskan sesuatu sementara Eros memilih memandang kentang goreng di hadapannya dengan tatapan kosong. Pikiran mereka mengembara ke masa lalu. Masa ketika pertengkaran belum mewarnai kebersamaan. Masa ketika cinta masih terlihat seindah fajar. Masa ketika impian belum tersapu kabut.
            “Kamu ingat, Key di mana pertama kali kita ketemu?” Suara berat Eros memecah kebisuan. Tanpa menunggu Keyne menjawab, lelaki berambut pendek itu melanjutkan ucapan, “Waktu itu kamu sedang ada tugas sekolah. Kamu harus membuat rangkaian listrik dengan menggunakan kentang. Kamu sedang kebingungan di toko elektronik dan aku hanya memperhatikan dari jauh. Seorang gadis mungil mencoba berbelanja peralatan listrik, sungguh menarik buatku.” Eros berhenti sejenak, menyeruput ice lemon tea yang tinggal separuh. Ditatapnya Keyne yang kini asyik mengunyah kentang goreng. Seulas senyum tipis menghias bibir tipis gadis itu.
            “Lalu kamu menghampiri aku dan menawarkan bantuan,” senyum Keyne semakin lebar mengingat kisah awal perjumpaannya dengan Eros. “Ternyata kamu kakak kelasku waktu SMP. Hahaha.” Keyne terbahak. Lupa dengan kegusaran yang sesaat lalu melingkupinya.
            “Tiga bulan setelah itu aku memberanikan diri untuk bilang suka sama kamu.” Eros tersenyum menatap mata Keyne. Senyum terindah yang pernah Keyne lihat. Ah, bukan senyum terindah. Senyum Eros memang selalu indah. Itulah mengapa Keyne tak pernah bosan menghabiskan waktu bersama Eros. Ia bisa menikmati senyum Eros sepuasnya. Ditambah lagi Eros adalah orang yang ceria.         “Dan sembilan tahun kemudian, di sinilah kita. Membahas tentang rencana pernikahanmu.” Eros mencoba tersenyum, tapi Keyne tahu sorot  mata tajam itu kini terluka.
            Keyne bukannya tidak tahu luka hati dan kekecewaan Eros saat ini. Namun keputusannya untuk menikah dengan Nayaka sudah dipikirkan dengan masak. 
            “Kita melewati sembilan tahun yang indah, Key. Menghabiskan waktu berdua dengan kamu benar-benar menyenangkan buatku. Walaupun hanya sekedar ngobrolin hal-hal absurd dan nggak penting atau membahas tentang teknologi terbaru yang sedang dikembangkan. Bahkan berpetualang denganmu menjadi satu hal yang sangat kutunggu-tunggu.” Eros menatap gadis di hadapannya yang kini sedang tersenyum, membentuk sepasang lesung pipit yang selalu membuat Eros gemas.
            Dengan suara sedikit berat, lelaki berkulit putih itu melanjutkan, “Kamu ingat, nggak waktu kita ke Semeru?”
            Keyne mengangguk kecil. “Waktu itu aku sedang demam tapi nekat mau ikut kamu ke Semeru. Kamu udah melarang dan berjanji akan ajak aku ke Semeru di kesempatan lain. Tapi aku malah ngambek dan marah-marah. Dengan terpaksa akhirnya kamupun ajak aku. Perjalanan jadi sedikit lebih lambat karena kamu terus-terusan mengecek kondisiku.”
            “Kamu selalu keras kepala, Key. Semua inginmu harus terpenuhi. Tak ada kompromi. Itu juga yang bikin aku makin sayang sama kamu.” Kesunyian kembali mengisi. “Kamu masih sayang sama aku, nggak, Key?,” tanya Eros .
            Keyne menunduk. Seandainya Eros tahu, ia ingin sekali berteriak bahwa ia juga menyayangi Eros. Sangat sayang, malah. Namun ia menahan semua itu. Tak ingin lebih menyakiti Eros di pertemuan terakhir mereka.
            “Kamu sayang dia, Key?”
            Gadis itu mengangkat wajahnya, menatap Eros yang entah bagaimana terlihat semakin tampan dengan siluet cahaya senja yang masuk ke café tempat mereka bertemu.
            “Calon suamimu. Apakah kamu benar-benar mencintainya?” Suara Eros terdengar berat ketika mengucapkan kalimatnya.
            Keyne hanya tersenyum. Ia teringat bombardir dari keluarganya yang meminta untuk segera menikah dengan alasan umur. Sosok Nayaka datang di saat Keyne sudah lelah dengan segala pertanyaan dan kejaran itu. Hanya tiga bulan berkenalan sebelum akhirnya Keyne mengiyakan ketika Nayaka memintanya menjadi istri. Tak ada rasa cinta. Tak ada rasa sayang seperti yang dirasakan Keyne pada Eros. Nayaka seolah menjadi sosok pelarian dari semua kejaran norma. Terkadang Keyne muak dengan semua itu. Perempuan harus segera menikah agar tak disebut sebagai perawan tua. Lalu ketika usianya mencapai 25 tahun, segala kejaran untuk menikah itu seperti mimpi buruk bagi Keyne.
            Segala alasan sudah dikemukakan pada ayah dan mama. Keyne ingat ucapannya pada mama beberapa waktu lalu, “Key mau berkarir dulu, Ma. Key masih ingin mewujudkan impian-impian Key.”
            Namun mama mematahkan semua argumen Keyne. “Key, sayang. Berkarir masih bisa dilakukan saat kamu sudah menikah, Nak. Justru dengan menikah rejeki kamu akan semakin berlipat. Menikah itu ibadah, Nak. Apalagi yang akan kamu cari? Kalau hanya mengejar dunia kamu akan lelah. Dunia nggak akan ada habisnya. Sampai kiamat pun, dunia akan terus menggoda, dunia akan selalu minta dikejar. Ayah dan Mama hanya ingin lihat anak bungsu kami menikah dan bahagia.”
            Tapi apa benar dengan menikah akan membuat kita lebih bahagia? Buktinya banyak orang-orang yang akhirnya memilih berpisah dan mengakhiri rumah tangga mereka. Sudah tidak ada kecocokan selalu saja menjadi senjata andalan untuk berpisah. Bukannya orang menikah untuk selalu beriringan dan mencoba menerima perbedaan dan bukannya memaksakan keinginan masing-masing?
            “Padahal aku sudah berulangkali memintamu menjadi istriku. Tapi kamu nggak pernah mau. Sekarang  ketika lelaki itu datang, kamu langsung menerimanya.” Suara Eros membawa Keyne kembali dari lamunan.
            “Kamu nyalahin aku?” Suara Keyne sedikit meninggi. “Aku sudah pernah menyampaikan alasanku dan kita sudah membahas ini berulang kali, Ros. Jalan kita nggak sama. Nggak mungkin kita bisa membina rumah tangga kalau…”
            “Aku sudah pernah bilang, aku akan menikahimu tapi dengan caraku, dengan keyakinanku, dan aku minta kamu…”Eros segera memotong ucapan Keyne.
            “Aku nggak bisa pindah keyakinan begitu saja hanya untuk menikah dengan kamu, Ros. Ada banyak hal yang harus kupertimbangkan.”
            “Hanya? Kamu bilang, hanya? Jadi selama ini hubungan kita apa?Aku serius sama kamu tapi kamu nggak pernah menganggap hubungan kita serius?”
            Orang-orang di café mulai memandang ke meja Eros dan Keyne. Mereka pasti bertanya-tanya apa yang dipertengkarkan pasangan itu. Eros menarik napas panjang dan mengembuskan kuat-kuat. Seperti ingin membuang semua emosi yang tiba-tiba menyelubunginya.
            “Hanya itu yang bisa kulakuin, Key. Aku nggak bisa meninggalkan keyakinanku.”
            “Aku juga.” Sahut Keyne singkat. “Karena itu aku menerima ketika Nayaka memintaku jadi istrinya.”
            Eros tak dapat berkata-kata mendengar ucapan Keyne. Selama tiga tahun terakhir hubungan mereka selalu diwarnai dengan pertengkaran. Perdebatan tentang perbedaan keyakinan selalu mewarnai pembicaraan. Masing-masing bertahan dengan keyakinannya. Tak ada yang mau mengalah.
            Selama ini Eros sangat menikmati kebersamaan dengan Keyne. Gadis itu sudah membersamainya selama sembilan tahun. Keyne berbeda dengan gadis –gadis lain yang dikenal Eros. Keyne selalu ceria. Meski ia sedang ada masalah namun Keyne selalu bisa menghadapinya dengan senyuman seolah masalah itu tak pernah ada. Keyne mengajari banyak hal kepada Eros tentang kehidupan. Meski usia mereka masih muda namun Keyne memiliki banyak pengalaman hidup. Semua berkat keaktifannya mengikuti berbagai organisasi sejak jaman SMA dulu.
            “Aku nggak akan bisa nemuin orang seperti kamu lagi, Key.”
            “Kenapa?” sahut Keyne. Heran dengan ucapan Eros yang tiba-tiba.
          “Kamu itu unik. Galak tapi nyenengin. Selalu bisa bikin aku tertawa di kondisi apapun. Bisa menghibur sekaligus ngejek aku. Kamu kelihatan cuek tapi sebenarnya sangat perhatian. Kamu spesial, Key. Nggak akan ada yang bisa nyamain kamu.” kali ini mata Eros berbinar. Percikan kembang api tergambar disana.
            “Eros, kamu harus tetap berjalan ke depan. Kamu nggak bisa berhenti di sini. Masa depan kamu masih panjang. Aku yakin suatu saat nanti kamu akan ketemu dengan seseorang yang jauh lebih baik dari aku. Lebih sayang, lebih perhatian, lebih cantik, lebih lucu dan gemesin. Yang bisa bikin kamu jatuh cinta kepadanya setiap hari. Yang bisa membuat kamu bahagia.” Keyne tersenyum. Meski begitu getaran dalam suaranya tak dapat menutupi perasaan yang tersembunyi.
Membayangkan akan kehilangan Eros dalam hidupnya cukup membuat Keyne bersedih. Beberapa hari ini Keyne seperti kehilangan gairah hidup. Bagaimanapun juga Eros pernah mengisi hari-harinya. Menemani mengerjakan tugas, mengantar jemput ke tempat kerja saat motornya mogok, bahkan rajin membelikan makanan kesukaan Keyne bila gadis itu sedang mengalami bad mood. Keyne tahu ia tak bisa begitu saja menghapus Eros dari hidupnya.
“Kita akan baik-baik saja setelah ini, Ros. Kamu akan melanjutkan hidupmu dan aku akan menjalani hidupku. Mungkin kita nggak berjodoh tapi terlalu memaksa cupid untuk menyatukan. Kadang hidup berjalan tidak sesuai dengan keinginan. Kita hanya harus menerima. Semua akan ada hikmahnya. Kamu akan tetap berbahagia walaupun tanpa aku. ”

*  *  *  *  *
Eros terbangun karena udara dingin yang menusuk. Lelaki berbadan tegap itu merapatkan jaket dan syal melingkari leher hingga wajah. Ia melakukan gerakan-gerakan senam ringan, mencoba menghangatkan tubuh. Sesaat lagi matahari terbit. Sebuah keindahan alam yang selalu membuatnya takjub setiap kali mengunjungi tempat ini. Dari arah timur semburat merah mulai muncul. Eros menunggu dengan sabar hingga mentari menampakkan dirinya malu-malu.

pict: wikipedia-dot-com

Hari ini pernikahan Keyne dan Nayaka berlangsung. Eros menepati janjinya untuk tidak hadir. Dua hari yang lalu ia memutuskan untuk mendaki Semeru. Mengenang masa-masa kebersamaan dengan Keyne.

“Semoga kamu berbahagia, Key.” lirih Eros berisik. "Kamu nggak akan terganti. Sampai kapanpun." 

* * * * * 

Bontang, 15092019
Sandya Narda
Be First to Post Comment !
Posting Komentar

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9