Hembus angin bulan April mengalun beku. Seolah tahu berat langkahku meninggalkanmu. Semua
terjadi di luar kendali. Akupun terluka dengan semua ini.
Entah kapan akan
kembali kubelai hitam rambutmu. Rindu menyusup di setiap lembar napasku. Membisikkan doadoa,
melepaskannya mengangkasa bersama harap.
Ingin kugenggam jemarimu menyusuri
jajaran kembang. Bersama angsa yang pulang ke pelukan senja
Tersenyumlah. Agar tetap kuat aku berdiri menjelangmu. Meski
tak tersentuh namun indah tawamu mewangikan mimpiku. Mengelus perih luka yang
tertinggal.
Percayalah, Melati aku akan kembali. Memeluk rapuhmu,
membelai suci kelopakmu.

Be First to Post Comment !
Posting Komentar