The thought of little bee

Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Rona di Ujung Senja (Part 1)

Sabtu, 28 Maret 2020


“Martin melamarku.”
Suara Karen memecah hening. Rose dan Lucia, sahabat karibnya spontan menoleh. Memandang Karen seolah wanita itu salah bicara.
“Kenapa? Kalian tak percaya?” Karen nampak kesal dengan reaksi kawan-kawannya.
“Kamu nggak salah makan waktu sarapan tadi, kan?” Sahut Lucia.
“Memang ada pilihan apa di sarapan kita tadi pagi? Bukankah kamu juga makan menu yang sama denganku?” jawab Karen nggak nyambung.
Lucia merengut. Bibir keriputnya nampak semakin kecil. Dia hanya ingin memastikan ucapan Karen, tetapi kawannya yang satu itu malah menjawab dengan ketus.
Rose tersenyum melihat ulah kedua sahabatnya. Matanya masih terpaku pada rajutan di tangan, “Kapan Martin melamarmu, Karen?”
Karen menoleh ke arah Rose. “Minggu lalu. Pagi setelah sarapan dia mengajakku berjalan-jalan di taman samping. Lalu dia mengatakan kalau dia ingin menghabiskan sisa umur dengan aku di sisinya. Bukankah itu artinya dia melamarku?” Suara Karen melirih, menelengkan kepalanya seolah ragu dengan kalimat yang terakhir.
“Pastikan saja lagi kepada Martin, melihat sifatnya yang selalu serius, kurasa dia memang melamarmu.” Rose berkata sambil menatap ke luar jendela.
Hamparan taman kecil di halaman depan gedung tua itu makin indah kala senja datang. Dahlia, Krisan, Lavender, dan tentu saja Mawar nampak berkelompok indah. Warna warni memanjakan mata. Beberapa bangku diletakkan di halaman. Penghuni rumah jompo itu suka menghabiskan waktu di sana. Mereka bisa berjalan-jalan atau berolahraga ringan. Karena itu ada dua taman yang dibangun, di halaman depan dan samping.
Pict:id.pinterest.com
Karen masuk rumah jompo sejak empat tahun yang lalu. Setahun kemudian menyusul Lucia. Sementara Rose sudah enam tahun menjadi penghuni rumah jompo itu. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menjadi akrab. Apalagi dengan sifat Karen yang suka berteman dan ceria.
Hampir semua penghuni, pengurus dan pendamping rumah jompo menyukai Karen. Wanita tujuh puluh enam tahun itu  mudah akrab dengan siapapun. Ia tak pernah memilih teman. , tanyakan saja pada penghuni rumah jompo yang lain. Tak ada yang tak kenal Karen.
“Anak-anakmu sudah tahu?” suara serak Lucia memecah keheningan. Dipandangnya Karen dengan tatapan menyelidik.
Yang ditanya hanya mengedikkan bahu. “Aku sudah memberitahu mereka lewat telepon, tetapi mereka belum mengatakan apa-apa. Sabtu ini mereka akan dating, nanti kutanyakan pada mereka.”
Karen memiliki tiga anak. Semua sudah berkeluarga, kecuali si bungsu Cleo. Usianya sudah hampir empat puluh tahun tapi wanita berambut coklat itu masih betah menyendiri. Karir yang bagus membuat ia semakin tenggelam dalam pekerjaan. Kakak-kakaknya, Andrew dan Robert sudah memberikan tiga cucu untuk Karen.
Setiap Sabtu mereka selalu mengunjungi Karen. Seperti halnya saat ini, Andrew dan Robert bersama keluarga masing-masing hadir ke rumah jompo. Cleo mengikuti di belakang mereka. Sabtu memang dikhususkan untuk hari keluarga. Mereka boleh mengunjungi orangtua atau kerabat yang tinggal di rumah jompo.
Karen beruntung karena anak-anaknya selalu datang. Rose juga demikian. Meski anak-anaknya tinggal di luar kota, tetapi kemenakan satu-satunya selalu mengunjungi. Lucia tak terlalu beruntung. Anak tunggalnya terlalu sibuk untuk menengok Lucia. Rose selalu mengajak Lucia bergabung ketika Miranda, keponakannya berkunjung.
Aula itu berubah menjadi ramai setiap Sabtu. Para penghuni rumah jompo nampak mengobrol dengan keluarga masing-masing. Mereka saling berkelompok. Seperti sebuah kelompok belajar anak-anak. Wajah para manula itu berseri melihat kelucuan cucu-cucu mereka.
Karen nampak menikmati pie buatan Emily, istri Andrew. Pie buatan Emily selalu enak. Karen tahu menantunya itu hobi masak, karena itu hidangan di rumah Andrew selalu nikmat.
“Bagaimana, Ma? Enak nggak pie buatanku kali ini?” tanya Emily sambil menuangkan segelas jus berry.
“Masakan buatanmu selalu enak, Em. Mama suka semua yang kau masak.” Karen membalas senyum menantunya.
Andrew yang sedang mengambil sepotong pie menimpali, “Lalu mengapa Mama tak pernah mau tinggal bersama kami? Kami sudah menyiapkan kamar untuk Mama. Kalau Mama butuh perawat pribadi pun akan kami sediakan.”
Karen meletakkan pie ke meja. Dihelanya napas panjang. “Bukan Mama tak suka tinggal bersama kalian. Mama hanya ingin bersama dengan orang-oarang seumur mama. Kami disini saling memahami, saling mengerti. Perjalanan hidup yang telah kami lalui. Tahun-tahun yang telah berjalan. Kenangan tentang masa lalu yang selalu membuat kami tertawa bersama. Kami bisa mengobrolkan hal yang bisa sama-sama kami pahami. Kami menertawakan kekonyolan yang sama. Kesalahan dan kebahagiaan masa lalu. Dan yang paling penting adalah Mama bahagia di sini, Andy.”
“Juga karena ada Martin?” potong Robert cepat dengan nada tak suka.

** Bersambung **

Ratu Panggung

Kamis, 26 Maret 2020


Alia memasukkan perlengkapan pentas ke dalam tas. Malam ini gadis manis itu akan tampil. Latihan tari berbulan-bulan akan sampai pada puncaknya. Pementasan tari kolosal yang sudah dinanti. Tiket sudah terjual habis sejak 2 bulan lalu. Alia tak menyangka antusias masyarakat setinggi ini pada pentas tari. Di jaman modern ini tak banyak orang yang mau nonton pementasan semacam ini. Mereka lebih suka nonton konser penyanyi terkenal. Apalagi konser K- Pop Korea. Pasti akan banyak yang berduyun-duyun datang. Makanya Alia agak tercengan ketika mendengar 400 tiket terjual habis.
"Alia... Aku berangkat duluan, ya!" Suara Fina menggema dari ruang tamu. Mereka sesama penari. Hanya berbeda peran saja di pertunjukan ini. Alia mendapat peran utama sementara Fina adalah cadangan. Apabila Alia berhalangan maka Fina akan menggantikan.
Alia tahu Fina sangat menginginkan peran ini. Tapi hasil audisi menyatakan Alia sebagai pemeran utama.
"Nggak bareng aku aja, Fin?" Alia menimpali.
"Nggak usah. Aku mau mampir ke tempat Laras. Ada barangku yang ketinggalan."
"Baiklah. Sampai ketemu di gedung."
Proyek kolosal ini digagas oleh Kak Bara, seorang pegiat tari yang sudah go internasional. Audisi diadakan setahun lalu. Alia dan Fina bahkan melakukan audisi bersama. Penampilan mereka sama bagusnya. Namun Kak Bara dan timnya menilai penampilan Alia lebih sesuai sebagai karakter utama dibandingkan Fina. Meski begitu Fina tetap mendapatkan peran sebagai pengganti bila pemeran utama berhalangan.
Setelah audisi itu sikap Fina sedikit berubah. Ia terlihat lebih sering menjauhi dan menghindari Alia. Hanya menyapa seperlunya dan tak lagi banyak mengobrol atau bercanda dengan Alia. Padahal dahulu mereka selalu menghabiskan waktu berdua. Beberapa kali Alia mengajaknya mengobrol, namun Fina pergi dan menghindar. “Sorry, Al, aku sibuk.” Selalu begitu alasannya. Di saat lain Fina bahkan terang-terangan menunjukkan rasa tak sukanya pada Alia.
Alia pernah menanyakan langsung pada Fina tentang hal ini. “ Apa karena hasil audisi kemarin , lalu sikapmu menjadi berubah?” tanyanya suatu hari.
“Nggak ada hubungannya dengan audisi. Aku hanya sedang sibuk dan aku tak ingin diganggu siapapun.” Jawab Fina dengan ketus.Hal itu berlangsung sampai hari ini. Hari ketika pementasan akhirnya akan digelar.
Pict: notjustatourist dot com

Sepergi Fina, Alia meneruskan aktifitas. Setelah yakin semua barang sudah masuk tas, segera disambarnya kunci mobil. Sebuah city car yang dibeli dari hasil menari selama ini. Alia sering diundang ke acara-acara pernikahan maupun acara kantor untuk menari. Penghasilannya lumayan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari dan sedikit menabung.
Alia melihat jam tangannya. Hari sudah hampir gelap, ia harus bergegas. Persiapan pementasan pasti membutuhkan waktu yang lama. Akan ada  gladi resik terakhir, make up, kostum, briefing, dan lain-lain.
Alia melajukan mobil agak kencang. Ia tak ingin terlambat sampai di lokasi acara. Kalau ia terlambat maka semua akan kacau. Ia tak ingin mengecewakan Kak Bara dan teman-teman lainnya yang sudah bersusah payah untuk pementasan ini.
Sesampai di gedung, dilihatnya poster besar terpampang di depan pintu masuk. Namanya tertulis jelas 'Alia Jasmine' . Sebentuk rasa bangga memenuhi dada.
Pukul 20.00 WIB, acara dimulai. Alia tampil dengan sempurna. Hanya saja ia tak mengerti, mengapa Fina juga ikut tampil bersamanya. Bukankah seharusnya Fina hanya peran pengganti? Hingga akhir pementasan, Fina masih saja tampil memerankan peran utama milik Alia.
            Pementasan berjalan lancar. Tepuk sorai penonton tak henti memberikan apresiasi. Alia menatap semuanya dari atas panggung. Dilihatnya teman-teman sesama penari. Fina bahkan berdiri di sampingnya. Memakai baju dan asesoris yang sama dengan Alia. Senyum teman serumahnya itu lebar.
*****
Di IGD Rumah Sakit, suasana nampak sibuk. Seorang pasien bersimbah darah di salah satu brankar. Dokter dan perawat jaga sedang memberi pertolongan. Namun sudah lebih dari 15 menit tak ada tanda-tanda kehidupan. Pasien itu dinyatakan telah meninggal. Seorang perawat menuliskan namanya pada sebuah formulir. Nama: Alia Jasmine, waktu kematian: 19.37 WIB.

**TAMAT**