“Martin
melamarku.”
Suara
Karen memecah hening. Rose dan Lucia, sahabat karibnya spontan menoleh.
Memandang Karen seolah wanita itu salah bicara.
“Kenapa?
Kalian tak percaya?” Karen nampak kesal dengan reaksi kawan-kawannya.
“Kamu
nggak salah makan waktu sarapan tadi, kan?” Sahut Lucia.
“Memang
ada pilihan apa di sarapan kita tadi pagi? Bukankah kamu juga makan menu yang
sama denganku?” jawab Karen nggak nyambung.
Lucia
merengut. Bibir keriputnya nampak semakin kecil. Dia hanya ingin memastikan
ucapan Karen, tetapi kawannya yang satu itu malah menjawab dengan ketus.
Rose
tersenyum melihat ulah kedua sahabatnya. Matanya masih terpaku pada rajutan di
tangan, “Kapan Martin melamarmu, Karen?”
Karen
menoleh ke arah Rose. “Minggu lalu. Pagi setelah sarapan dia mengajakku
berjalan-jalan di taman samping. Lalu dia mengatakan kalau dia ingin
menghabiskan sisa umur dengan aku di sisinya. Bukankah itu artinya dia
melamarku?” Suara Karen melirih, menelengkan kepalanya
seolah ragu dengan kalimat yang terakhir.
“Pastikan
saja lagi kepada Martin, melihat sifatnya yang
selalu serius, kurasa dia memang melamarmu.” Rose berkata sambil menatap ke
luar jendela.
Hamparan
taman kecil di halaman depan gedung tua itu makin indah kala senja datang. Dahlia,
Krisan, Lavender, dan tentu saja Mawar nampak berkelompok indah. Warna warni
memanjakan mata. Beberapa bangku diletakkan di halaman.
Penghuni rumah jompo itu suka menghabiskan waktu di sana. Mereka bisa
berjalan-jalan atau berolahraga ringan. Karena itu ada dua taman yang dibangun, di halaman depan dan samping.
![]() |
| Pict:id.pinterest.com |
Karen
masuk rumah jompo sejak empat tahun yang lalu. Setahun kemudian menyusul Lucia.
Sementara Rose sudah enam tahun menjadi penghuni rumah jompo itu. Tak butuh
waktu lama bagi mereka untuk menjadi akrab. Apalagi dengan sifat Karen yang
suka berteman dan ceria.
Hampir
semua penghuni, pengurus dan pendamping rumah jompo menyukai Karen. Wanita
tujuh puluh enam tahun itu mudah akrab
dengan siapapun. Ia tak pernah memilih teman. , tanyakan
saja pada penghuni rumah jompo yang lain. Tak ada yang tak kenal Karen.
“Anak-anakmu
sudah tahu?” suara serak Lucia memecah keheningan. Dipandangnya Karen dengan
tatapan menyelidik.
Yang
ditanya hanya mengedikkan bahu. “Aku sudah memberitahu mereka lewat telepon,
tetapi mereka belum mengatakan apa-apa. Sabtu ini mereka akan dating, nanti kutanyakan pada mereka.”
Karen
memiliki tiga anak. Semua sudah berkeluarga, kecuali si bungsu Cleo. Usianya
sudah hampir empat puluh tahun tapi wanita berambut coklat itu masih betah
menyendiri. Karir yang bagus membuat ia semakin tenggelam dalam pekerjaan.
Kakak-kakaknya, Andrew dan Robert sudah memberikan tiga cucu untuk Karen.
Setiap
Sabtu mereka selalu mengunjungi Karen. Seperti halnya saat ini, Andrew dan Robert bersama keluarga masing-masing
hadir ke rumah jompo. Cleo mengikuti di belakang mereka. Sabtu memang
dikhususkan untuk hari keluarga. Mereka
boleh mengunjungi orangtua atau kerabat yang tinggal di rumah jompo.
Karen
beruntung karena anak-anaknya selalu datang. Rose juga demikian. Meski
anak-anaknya tinggal di luar kota, tetapi kemenakan satu-satunya selalu
mengunjungi. Lucia tak terlalu beruntung. Anak tunggalnya terlalu sibuk untuk
menengok Lucia. Rose selalu mengajak Lucia bergabung ketika Miranda, keponakannya berkunjung.
Aula
itu berubah menjadi ramai setiap Sabtu. Para penghuni rumah jompo nampak
mengobrol dengan keluarga masing-masing. Mereka saling berkelompok. Seperti
sebuah kelompok belajar anak-anak. Wajah para manula itu berseri melihat kelucuan
cucu-cucu mereka.
Karen
nampak menikmati pie buatan Emily, istri Andrew. Pie buatan Emily selalu enak.
Karen tahu menantunya itu hobi masak, karena
itu hidangan di rumah Andrew selalu nikmat.
“Bagaimana,
Ma? Enak nggak pie buatanku kali ini?” tanya Emily sambil menuangkan segelas
jus berry.
“Masakan
buatanmu selalu enak, Em. Mama suka semua yang kau masak.” Karen membalas
senyum menantunya.
Andrew
yang sedang mengambil sepotong pie menimpali, “Lalu mengapa Mama tak pernah mau
tinggal bersama kami? Kami sudah menyiapkan kamar untuk Mama. Kalau Mama butuh
perawat pribadi pun akan kami sediakan.”
Karen
meletakkan pie ke meja. Dihelanya napas panjang. “Bukan Mama tak suka tinggal
bersama kalian. Mama hanya ingin bersama dengan orang-oarang seumur mama. Kami
disini saling memahami, saling mengerti. Perjalanan hidup yang telah kami
lalui. Tahun-tahun yang telah berjalan. Kenangan tentang masa lalu yang selalu
membuat kami tertawa bersama. Kami bisa mengobrolkan hal yang bisa sama-sama
kami pahami. Kami menertawakan kekonyolan yang sama. Kesalahan dan kebahagiaan
masa lalu. Dan yang paling penting adalah Mama bahagia di sini, Andy.”
“Juga
karena ada Martin?” potong Robert cepat dengan nada tak suka.
** Bersambung **




































Ditunggu kelanjutan
BalasHapusWaw menarik sekali, ditunggu sambungannya mbak.
BalasHapus