Malam merambat naik. Menelan
senja dalam kilau temaramnya. Aku masih disini, menunggumu kembali di sudut
sunyi. Engkau yang hanya kujumpai di sisa waktu. Engkau yang selalu tergesa
diburu masa. Aku yang mencoba setia pada tipu dunia.
Apimu menggelora, membakarku
dalam aroma dosa. Menghanguskan segala simpati dan logika. Membiarkan hasrat
yang menyamar menjadi cinta, meraja di setiap sudut lirikan rembulan. Biarkan
bulan kelabu mengintip dari balik awan. Karena aku ingin dunia tahu bahwa aku
juga ratu. Ratu di sepotong hatimu. Meski hanya berdiri di sudut beranda.
Aku hanyalah sepatu bagimu.
Indah namun tak menetap. Langkahmu tak terhenti di aku, karena aku bukan
segalamu. Engkau yang hanya mampu kupeluk diantara gelimang malam tanpa sempat
menemui rona pagi. Aku adalah secangkir kopi yang tak bisa kau lupakan. Demi
aroma harum yang bisa kau sesap diantara hangatnya pelukan selimut.
![]() |
| Pict: pexels dot com |
Kau dan aku adalah
pencuri. Dari jutaan waktumu yang tak kumiliki. Meski sayapku terbang menujumu
namun langkah kakimu selalu berlari kepadanya. Sentuhan hangat jemariku tak
mmapu membawamu menetap di sisiku. Meski telah kusinggasanakan engkau di
hatiku.
Jarum merajam perih hatiku
melihatmu menatapnya. Rintik gerimis cinta yang kau persembahkan untuknya.
Apakah Ia tahu gerimis itu kau nodai? Atau Ia tahu aku selalu menunggu di sudut
hatimu? Separuh dirimu adalah milikku. Karena engkau tak bisa lepas dariku.
Engkau yang laut,
melayarkanku ke samudra kebahagian. Ketika aroma parfum bergeliat diantara
nyanyian para cicak. Menodai singgasana hati dalam istanamu. Dan aku harus
segera berkemas ketika fajar mengetuk tirai. Kembali menjadi sepatu sebelum
pemilik hatimu kembali.
Bontang, 24082018
Sandya Narda




































Cakep tulisannya
BalasHapusWaw bagus banget mbak puisinya, teeasa nyawanya.
BalasHapus