The thought of little bee

Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan

Pencuri Waktu

Jumat, 27 Maret 2020

Malam merambat naik. Menelan senja dalam kilau temaramnya. Aku masih disini, menunggumu kembali di sudut sunyi. Engkau yang hanya kujumpai di sisa waktu. Engkau yang selalu tergesa diburu masa. Aku yang mencoba setia pada tipu dunia.

Apimu menggelora, membakarku dalam aroma dosa. Menghanguskan segala simpati dan logika. Membiarkan hasrat yang menyamar menjadi cinta, meraja di setiap sudut lirikan rembulan. Biarkan bulan kelabu mengintip dari balik awan. Karena aku ingin dunia tahu bahwa aku juga ratu. Ratu di sepotong hatimu. Meski hanya berdiri di sudut beranda.

Aku hanyalah sepatu bagimu. Indah namun tak menetap. Langkahmu tak terhenti di aku, karena aku bukan segalamu. Engkau yang hanya mampu kupeluk diantara gelimang malam tanpa sempat menemui rona pagi. Aku adalah secangkir kopi yang tak bisa kau lupakan. Demi aroma harum yang bisa kau sesap diantara hangatnya pelukan selimut.
Pict: pexels dot com

Kau dan aku adalah pencuri. Dari jutaan waktumu yang tak kumiliki. Meski sayapku terbang menujumu namun langkah kakimu selalu berlari kepadanya. Sentuhan hangat jemariku tak mmapu membawamu menetap di sisiku. Meski telah kusinggasanakan engkau di hatiku.

Jarum merajam perih hatiku melihatmu menatapnya. Rintik gerimis cinta yang kau persembahkan untuknya. Apakah Ia tahu gerimis itu kau nodai? Atau Ia tahu aku selalu menunggu di sudut hatimu? Separuh dirimu adalah milikku. Karena engkau tak bisa lepas dariku.

Engkau yang laut, melayarkanku ke samudra kebahagian. Ketika aroma parfum bergeliat diantara nyanyian para cicak. Menodai singgasana hati dalam istanamu. Dan aku harus segera berkemas ketika fajar mengetuk tirai. Kembali menjadi sepatu sebelum pemilik hatimu kembali.

*****

Bontang, 24082018
Sandya Narda

Memeluk Melati

Minggu, 22 Maret 2020


Hembus angin bulan April mengalun beku. Seolah  tahu berat langkahku meninggalkanmu. Semua terjadi di luar kendali. Akupun terluka dengan semua ini.


Entah kapan akan kembali kubelai hitam rambutmu. Rindu menyusup di setiap lembar napasku. Membisikkan doadoa, melepaskannya mengangkasa bersama harap.


Ingin kugenggam jemarimu menyusuri jajaran kembang. Bersama angsa yang pulang ke pelukan senja


Tersenyumlah. Agar tetap kuat aku berdiri menjelangmu. Meski tak tersentuh namun indah tawamu mewangikan mimpiku. Mengelus perih luka yang tertinggal.


Percayalah, Melati aku akan kembali. Memeluk rapuhmu, membelai suci kelopakmu.


pict: freepik-dot-com
Bontang, 29082019
Sandya Narda